Bali Diminta Berbenah saat Sampah Pesisir Disorot Dunia

Jakarta, DUTA TV – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq menegaskan Bali memegang peran penting dalam transformasi pengelolaan sampah nasional.
Kebersihan kawasan pesisir di Pulau Dewata dinilai bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan citra Indonesia di mata dunia.
Hal itu disampaikan Hanif saat mengikuti aksi bersih pantai di Jimbaran, Kabupaten Badung.
Ia mengingatkan bahwa Bali merupakan wajah Indonesia bagi wisatawan mancanegara.
“Bali adalah etalase Indonesia, dan pantai-pantai ini mencerminkan wajah bangsa kita. Ketika pantai bersih, Indonesia dihormati sebagai negara yang peduli lingkungan. Namun, jika tercemar sampah, reputasi kita juga ikut tercoreng,” ujar Hanif, Jumat (6/3/26).
Sebagai destinasi pariwisata internasional, Bali menghadapi tantangan serius terkait persoalan sampah.
Pemerintah menargetkan tingkat pengelolaan sampah nasional mencapai 63,41% pada 2026.
Target tersebut harus diwujudkan melalui langkah nyata di daerah-daerah strategis, termasuk Bali.
Ia juga mengingatkan bahwa timbulan sampah nasional diproyeksikan terus meningkat.
Pada 2029, jumlahnya diperkirakan mencapai 146.780 ton per hari. Karena itu, pengelolaan sampah harus diperkuat sejak dari sumbernya.
Hanif menekankan pentingnya percepatan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga serta penguatan sistem pengelolaan di kawasan wisata.
“Bali harus mempercepat pemilahan sampah di rumah tangga, bisa melalui komposter atau teknologi pengolahan modern. Jaringan bank sampah juga perlu diperluas, dan kawasan wisata seperti hotel, restoran, serta kafe harus memiliki sistem pemilahan yang disiplin agar sampah tidak membebani TPA maupun mencemari lingkungan,” katanya.
Dalam kunjungan tersebut, Hanif juga meninjau sejumlah lokasi pengelolaan sampah berbasis sumber di Bali, antara lain Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Tahura 1 di Denpasar, Desa Kesiman Petilan di Denpasar, Desa Bongkasa Pertiwi di Badung, serta TPS 3R Pudak Mesari di Darmasaba, Badung.
Di lokasi-lokasi itu ia melihat langsung praktik pemilahan sampah yang dilakukan masyarakat di tingkat rumah tangga dan komunitas.
Meski sejumlah kemajuan telah terlihat, Hanif menilai tantangan pengelolaan sampah di Bali masih besar dan perlu dipercepat penyelesaiannya.(mi)





