Buka Peluang Pasar hingga PAD, Komisi II Dorong Expo Produk SMK

Banjarmasin, Duta TV — Tidak hanya menjadi tempat belajar, sejumlah SMK di Kalimantan Selatan kini mengembangkan berbagai produk dan jasa melalui konsep Teaching Factory, mulai dari produk kriya, kuliner, desain, batik, hingga jasa pemasangan CCTV, fiber optic, terapi autis, home care, dan daycare.
Potensi tersebut dinilai perlu diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat dan dunia usaha.
Hal itu membuat Komisi II DPRD Kalsel mendorong adanya expo khusus produk SMK BLUD. Dorongan itu disampaikan saat rapat gabungan SMK BLUD dan Komisi IV.
Paman Yani berharap expo nantinya menjadi sarana promosi sekaligus membuka peluang kerja sama dan pasar bagi produk hasil karya siswa. Menurutnya, penguatan promosi sangat penting, karena sebagian SMK telah memiliki unit usaha dengan omzet ratusan juta rupiah.
SMK Negeri 2 Banjarmasin misalnya, mencatat omzet BLUD sekitar 499 juta rupiah per tahun. Pendapatan tersebut kemudian dimanfaatkan kembali untuk mendukung kebutuhan sekolah, mulai dari pengembangan fasilitas, sarana, hingga bahan produksi.
Sementara itu, serupa, SMK Negeri 1 Banjarbaru mengembangkan produk kriya, tekstil dan batik, yang juga mengangkat potensi kearifan lokal Kalimantan Selatan. Pengembangan produk itu diarahkan agar tidak hanya menjadi bagian dari pembelajaran, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan dapat dipasarkan.
“Karena tadi hanya sekitar 7 SMK yang dipresentasikan tentang BLUD, kami sudah menangkap itu memang tidak terlalu signifikan. Akan tetapi, kita akan rapat ulang. Di situ kita akan selain kita mengevaluasi atau mengawasi BLUD di SMK ini, sekaligus juga ingin mendongkrak PAD. Seperti yang saya sampaikan tadi, ini kalau produk dan jasa yang dihasilkan tidak dibeli masyarakat, pendapatannya tak signifikan. Tapi kalau dikenal orang banyak, ini pasti akan luar biasa peminatnya. Nanti siap-siap saja, nanti BLUD jadi tonggak APBD kita,” ujar Muhammad Yani Helmi, Ketua Komisi II DPRD Kalsel.
“Pendapatannya arahnya dari omzet adalah 499 juta per tahun. Nah, jadi misalnya kita contohkan, kita ingin menambah pusat terapi autis itu untuk pelayanannya lebih nyaman. Maka dibikinlah ruang-ruang baru, ada empat bilik itu namanya yang dibikinkan. Kemudian ada misalnya kemarin itu penambahan halaman. Di depan tuh kalau lihat di SMK Negeri 2 Banjarmasin ada pintu lorong itu, nah itu hasil dari BLUD. Jadi kita boleh meningkatkan infrastruktur, kita juga ingin meningkatkan sarananya, atau pembelian bahan-bahannya boleh di situ,” jelas Novie Bambang, Kepala SMKN 2 Banjarmasin.
Syaiful Arif, Kepala SMKN 1 Banjarbaru berharap ke depannya dapat bersinergi dan berkolaborasi semua jurusan untuk meningkatkan pelayanan. Ia juga menjelaskan SMK merupakan satu-satunya yang memiliki BLUD.
“Harapannya ke depan itu ada sinergi dan kolaborasi semua jurusan untuk meningkatkan pelayanan. Dan SMK satu-satunya yang ada BLUD. SMA itu sebenarnya enggak ada BLUD. Karena berbasis TEFA (Teaching Factory). Jadi di situ teaching-nya ada pembelajarannya, factory-nya itu adalah produksinya. Jadi di situ ada unit produksi yang melibatkan alumni harapannya ke depan. Alumni bisa direkrut menjadi karyawan kalau ada order yang continue. Kemudian kalau teaching-nya, pembelajarannya itu melibatkan murid. Contohnya pembuatan teralis. TEFA-nya itu akan dibagi kelompok-kelompok. Ada kompetensi memotong plat, ada kompetensi mengelas, ada kompetensi mengecat, ada kompetensi mengukur, ada kompetensi memasarkan. Nah, di situlah tujuan BLUD utamanya untuk Teaching Factory. Tidak jauh dari itu sebenarnya. Kalau SMA enggak ada TEFA, jadi enggak ada BLUD di SMA itu. Kurang lebih dengan SMK 2 Banjarmasin sekitar 400-an itu sekian, kurang lebih,” jelasnya.
Komisi II menilai, jika promosi dan pemasaran semakin kuat, maka potensi usaha SMK juga dapat berkembang. Untuk itu, DPRD Kalsel berencana menggandeng Dinas Perindustrian, Perdagangan, serta DPMPTSP dalam pengembangan dan pemasaran produk, dengan target produk SMK tidak berhenti sebagai hasil pembelajaran, tetapi mampu masuk ke pasar yang lebih luas, meningkatkan kemandirian unit BLUD, sekaligus membuka peluang kontribusi terhadap PAD.
Reporter: Evi Dwi Herliyanti





