Beras Bulog Gantikan 25 Merek Beras Fortifikasi Palsu di Pasaran

Jakarta, DUTA TV – Kementerian Pertanian (Kementan) meminta Perum Bulog segera menyalurkan stok beras premium ke jaringan ritel modern.
Beras Bulog Gantikan
Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, langkah tersebut dilakukan karena stok beras premium Bulog masih banyak.
“Beras premium kami minta Bulog optimalkan men-supply, karena stoknya banyak. Itu bagaimana men-supply toko-toko ritel modern, itu segera di-supply.
“Tidak boleh tidak ada kata lain kecuali memenuhi kebutuhan masyarakat,” ungkap Amran ketika ditemui di Kompleks DPR RI Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (16/9/2026).
Selain mempercepat distribusi beras premium, pemerintah akan memperketat pengawasan harga eceran tertinggi (HET)
Amran mengatakan, pengawasan diperlukan untuk mencegah penjualan beras premium di atas HET.
Di sisi lain, pemerintah akan menindak tegas peredaran beras fortifikasi palsu. Produk yang terbukti melanggar akan ditarik dari pasar dan izin edarnya dicabut
“Dan yang sudah melanggar kemarin, yang fortifikasi, izinnya dicabut. Enggak boleh lagi memasarkan beras di Republik Indonesia,” sambung Amran.
Kasus beras fortifikasi terungkap setelah Badan Pangan Nasional (Bapanas) melakukan inspeksi mendadak dan mengambil sampel beras fortifikasi atau beras khusus pada April 2026.
Beras tersebut diklaim mengandung tambahan vitamin dan mineral gizi. Bapanas kemudian menguji 27 merek beras dengan klaim tambahan gizi di laboratorium. Hasilnya, 25 merek tidak memenuhi standar.
Ke-25 merek tersebut yaitu Idola Fortifikasi, Idola High Quality Whole Grain Rice, Idola Long Grain Rice, Ikan Mas Cupang, AAA Wijaya Kusuma, Cantik Manis, Penari Bangkok, Topi Koki Short Grain, Topi Koki Setra Royale, Topi Koki Long Grain Crysta, HOK-1 Gohan, Maknyuss Pulen Gizi, Anak Raja Fortifikasi, Anak Raja Nusantara, Top Anak Raja, PMS Induk Ayam, Sumo, Rasvit, FS Nutri Rice, Pelikan, Rice Rojolele, Super Kepala Beras Premium 111, 111 Golden Number, Putri Koki, dan Wellfarm Beras Diabet.
Kerugian konsumen akibat peredaran beras fortifikasi palsu tersebut diperkirakan mencapai Rp 89 triliun.(kom)





