Modus Penipuan Kualitas Beras Bikin Konsumen Rugi Rp 100 T

Jakarta, DUTA TV – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut kerugian yang ditanggung konsumen hampir Rp 100 triliun akibat praktik mafia dalam tata niaga beras nasional. Kerugian itu datang dari beras premium yang beredar tidak memenuhi standar mutu.

Amran mengatakan Kementan telah menguji sampel dari 212 merek beras dan telah menyerahkan bukti-bukti tersebut ke Satgas Pangan.

“Total kerugian Rp 98 triliun. Kita hitung detail, itu Rp 99 triliun. Kurang lebih Rp 100 triliun,” ujar Amran dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Selatan, Kamis (30/7/2026).

Kadar beras patah untuk beras premium yang telah ditetapkan pemerintah mencapai 14,5%.

Namun, hasil pengujian menunjukkan sejumlah sampel kadar beras patah hingga 59,20%.

“Ini yang terjadi, beras bukan premium, di bawahnya medium. Tapi dijual premium,” jelas Amran.

Satgas Pangan Polri mencatat, sepanjang periode 2024 hingga 2025 telah menangani 93 kasus mafia pangan dengan total 77 tersangka, terdiri dari 46 kasus beras, 27 kasus pupuk, 16 kasus minyak goreng, dan 4 kasus pegawai internal.

Selain itu, 2.231 izin pengecer dan distributor pupuk telah dicabut.

Khusus perkara pidana beras, sepanjang 2025 tercatat 30 perkara dengan 36 tersangka.

Memasuki 2026, penindakan berlanjut dengan 2 perkara dan 6 tersangka.

Selain beras premium, Amran juga menyebut terjadi permainan harga pada beras fortifikasi.

Beras fortifikasi dijual Rp 42.000/kilogram. Padahal harga beras fortifikasi sementara ini diimbau agar disamakan dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium.

Adapun rentang HET beras premium telah ditetapkan di harga Rp 14.900 per kilogram (kg) sampai Rp 15.800 per kg sesuai zonasi wilayah.

Beras fortifikasi merupakan beras yang diperkaya gizi/nutrisi, seperti vitamin B12, asam folat, Zat Besi, sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Ia menghitung kalkulasi biaya produksi sebenarnya.

Jika produsen memakai bahan dasar beras medium harga kisaran Rp 12.000-13.000/kg.

Lalu ditambahkan nutrisi Rp 700-1.000/kg, beras fortifikasi tersebut seharusnya dijual sekitar Rp 14.000/kg.

Akibatnya, potensi kerugian yang ditanggung konsumen hingga Rp 71,9 triliun per tahun.(dtk)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *