Di India Juga Ada Program Makan Siang Gratis, Tapi Hapus Menu Telur

Jakarta, DUTA TV – Pemerintah negara bagian Benggala Barat, India, menghapus telur dari menu makan siang gratis di sekolah-sekolah negeri.
Kebijakan ini langsung memicu perdebatan karena dinilai berdampak pada pemenuhan gizi anak sekaligus sarat dengan kepentingan politik dan agama.
Penghapusan telur dilakukan setelah pemerintah baru Benggala Barat menunjuk International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) atau gerakan Hare Krishna sebagai penyedia makanan dalam program makan siang sekolah.
ISKCON hanya menyajikan makanan vegetarian, sehingga telur tidak lagi masuk dalam menu.
Pemerintah menyebut menu baru tetap mampu memenuhi kebutuhan gizi siswa melalui sumber protein nabati seperti kedelai, keju cottage (paneer), dan kacang-kacangan.
“Kami akan memastikan seluruh nutrisi yang diperoleh anak dari telur dapat dipenuhi, bahkan dilampaui, melalui protein dan vitamin berkualitas tinggi dalam menu kami,” kata anggota senior ISKCON, Surovijoy Govinda Das, Selasa (14/7/2026), dikutip dari AFP.
Menteri Pendidikan Benggala Barat, Dipak Barman, juga menegaskan masyarakat tetap dapat hidup sehat meski menjalani pola makan vegetarian.
“Ada banyak orang di negara kami yang hidup sehat dengan pola makan vegetarian,” ujarnya.
Meski begitu, kebijakan tersebut menuai kritik dari kalangan tenaga kesehatan dan pendidik.
Mereka khawatir anak-anak, terutama dari keluarga kurang mampu, kehilangan salah satu sumber protein hewani yang murah dan mudah diperoleh.
Dokter kesehatan masyarakat Sylvia Karpagam menyebut telur merupakan ‘standar emas’ dalam kualitas protein.
Menurutnya, keputusan terkait menu makan sekolah seharusnya didasarkan pada bukti ilmiah, bukan pertimbangan lain.
Guru sekolah dasar di Benggala Barat, Raja Dey, juga mengaku khawatir kebijakan tersebut dapat memengaruhi kehadiran siswa di sekolah.
“Program makan siang gratis menjadi salah satu daya tarik terbesar di sekolah negeri,” katanya.
Menurut Dey, siswa biasanya lebih banyak hadir ketika menu makan siang menyediakan telur.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan.
Di negara bagian Karnataka, data pemerintah menunjukkan angka kehadiran siswa meningkat dari 93,5 persen menjadi 98,97 persen setelah distribusi telur diperluas menjadi enam hari dalam sepekan.(dtk)





