Sarden Kalengan Lagi Diperdebatkan. Apa Saja Sih Kandungannya ?

Jakarta, DUTA TV – Media sosial tengah diramaikan oleh diskusi tentang sarden kalengan dan produk sejenis. Banyak yang baru tahu produk ini ternyata tidak termasuk kriteria Ultra Processed Food (UPF).
Menarik karena pemahaman baru ini mengubah pandangan banyak orang, dari yang tadinya menganggap sarden kalengan sebagai makanan ‘kurang sehat’ karena dianggap UPF tiba-tiba jadi ‘si paling sehat’ setelah tidak lagi dianggap sebagai UPF.
Benarkah label UPF identik dengan tidak sehat, dan non-UPF otomatis lebih sehat?
Berbeda dengan ikan segar, ikan kalengan memang melewati tahap pemrosesan yang artinya termasuk dalam kategori ‘processed food’.
Proses pengolahan dan pengalengan membuat sarden dan sejenisnya bisa tahan lebih lama dalam penyimpanan.
Pengawetan pada berbagai produk dilakukan dengan banyak cara.
Ada yang melalui sterilisasi sehingga mikroorganisme tidak bisa tumbuh, ada juga yang memang menggunakan bahan pengawet, yang tentunya diklaim dalam dosis aman sesuai regulasi yang berlaku.
Komponen utama produk semacam ini adalah ikan, baik sarden, makarel, tuna, atau jenis lain.
Persentase bahan utama ini beragam, ada yang mencapai 60 persen dan ada juga yang hanya sekitar 20-an persen.
Selain itu biasanya ada air, minyak, saus tomat, gula, garam, cabai, bawang, dan rempah-rempah.
Pada beberapa produk, komposisinya relatif sederhana dan masih menyerupai bahan masakan rumahan.
Bahan lain yang banyak ditambahkan adalah garam natrium yang punya fungsi penting dalam produk kalengan karena membantu memperpanjang daya simpan sekaligus memperkuat rasa.
Saus tomat juga bukan sekadar penambah rasa, tetapi membantu menjaga kestabilan produk selama penyimpanan.
Minyak dipakai untuk menjaga tekstur ikan tetap lembut dan tidak terlalu kering setelah proses sterilisasi suhu tinggi.
Pada beberapa produk, memang ada bahan-bahan tambahan yang membuat ikan kalengan kerap diasosiasikan dengan UPF.
Di antaranya adalah natrium benzoat, yaitu pengawet yang digunakan untuk membantu menghambat pertumbuhan mikroba dan menjaga produk lebih stabil selama penyimpanan.
Ada juga MSG atau mononatrium L-glutamat yang berfungsi memperkuat rasa gurih pada ikan dan saus. Dalam keseharian, bahan ini dikenal sebagai penyedap rasa alias micin.
Pada beberapa produk ditemukan pati termodifikasi atau modified starch untuk membuat saus lebih kental dan tidak mudah terpisah.
Selain itu, juga ada pengatur keasaman seperti asam sitrat untuk menjaga kestabilan rasa dan kondisi produk.(dtk)



