Masjid Muhammadiyah Kelayan B Muara, Jadi Sarana Dakwah Sekaligus Saksi Bisu Perjuangan Masyarakat Banjar Melawan Penjajah

Banjarmasin, Duta TV — Inilah Masjid Muhammadiyah Kelayan B Muara, Banjarmasin, yang terletak persis di muara Kelayan B atau berada di bantaran Sungai Kelayan.
Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Banjarmasin yang diresmikan pada bulan Juni 1933 lalu atau masih pada zaman penjajahan.
Dulunya masjid ini belum seluas seperti sekarang. Masjid tersebut dibangun dengan bentuk bujur sangkar atau kotak.
Tempat ibadah ini awalnya juga dibangun dengan bahan bangunan kayu ulin secara keseluruhan.
Namun, seiring bertambahnya waktu, masjid ini mengalami pemugaran selama beberapa kali. Terakhir pada tahun 2012 dengan bentuk gedung permanen secara keseluruhan.
Awalnya, masjid ini dibangun oleh warga Muhammadiyah yang bermukim di sekitar kawasan Kelayan.
Tempatnya belum persis di bantaran sungai. Namun, karena ada kesepakatan tukar guling tanah dengan warga setempat, akhirnya masjid ini berdekatan dengan sungai sehingga lebih memudahkan warga untuk beraktivitas seperti mengambil air wudhu dan juga membersihkan masjid tersebut.
Sekretaris Masjid Muhammadiyah Kelayan B Banjarmasin, Sudarsono, mengatakan, “Masjid Muhammadiyah Kelayan ini merupakan Masjid Muhammadiyah pertama di Banjarmasin, diresmikan sejak bulan Juni 1933, masih zaman penjajah. Bentuknya masih bujur sangkar, lebar 15 panjang 15, kotak. Di tahun ada beberapa rehab, ada penambahan 1933, memasuki tahun 70 ada peningkatan jemaah otomatis mau diluasi karena tidak menampung jemaah lagi dan satu-satunya Masjid Muhammadiyah di Banjarmasin. Transportasi melalui sungai, awalnya tidak tepat di sungai, kebutuhan masjid juga banyak di sungai, transportasi juga,” ujarnya.
Dengan ukuran 15 kali 25 meter, bangunan masjid ini berlantai dua ini menampung sekitar 500 jemaah.
Biasanya saat bulan Ramadan, masjid ini juga digunakan jemaah untuk beritikaf. Selain itu, kegiatan keagamaan juga rutin digelar seperti tausiyah agama atau pengajian.
Sudarsono menambahkan, “Pembangunannya hibah dari Anang Acil dulu itu, jadi belakangnya aa menghibahkan, kalau membangun yang warga sini dulu. Sekarang 15 x 25, dulu masih kayu, ulin semua, baru 2012 sampai 2013 kemarin jadi permanen. Harian Zuhur Ashar 3 sampai 4 saf, kalau Jumat penuh, kalau puasa penuh di awal, kurang lebih 500 jemaah. Kalau kegiatan ceramah agama Subuh Ahad, Senin malam Selasa, ada juga buka puasanya,” paparnya.
Tak hanya sebagai tempat untuk beribadah, masjid ini juga merupakan saksi sejarah saat pahlawan-pahlawan Banjar melawan penjajah. Tentara-tentara dan warga yang melakukan perlawanan terhadap Belanda memanfaatkan bagian bawah masjid untuk bersembunyi dari kejaran Belanda dan menyusun strategi.
“Saya pernah dengar cerita waktu itu kan masih dijajah Belanda, dulu kan bentuk panggung jadi tentara kita sempat sembunyi di bawah gitu,” pungkas Sudarsono.
Sementara itu, menurut salah satu jemaah, Iwan, ia berharap masjid ini bisa terus dijaga, terutama oleh para pemuda yang ada di sekitar lingkungan masjid. Selain menjaga masjid, para pemuda juga bisa menghidupkan masjid tersebut, terlebih saat ini sudah memasuki bulan Ramadan atau puasa.
“Kalau bediam parak masjid ini jadi di sini ai setiap kali beribadah, peninian dihiga mesjid, wahini di sini, kuitan lawas di sini jua, lawan kan kita harus menghidupkan masjid kaya bukan Ramadan, kalau kawa yang anum-anum pang wahini. Mudahan ada tarus kelanjutannya. Alhamdulillah, siang malam ada jar roll aja,” ucap Iwan.
Adanya masjid tersebut diharapkan berdampak positif bagi warga sekitar. Diketahui, masjid ini juga memiliki barisan pemadam kebakaran MMK atau Masjid Muhammadiyah Kelayan yang masih aktif hingga saat ini.
Reporter: Zein Pahlevi





