Mandai, Si ‘Pencuri Nasi’ yang jadi Favorit Wisatawan

Jakarta, DUTA TV – Berbicara tentang kekayaan kuliner Nusantara memang tidak ada habisnya.

Ada satu hidangan unik yang mungkin terdengar tidak biasa bagi masyarakat di luar Pulau Borneo, namun menjadi primadona bagi warga lokal dan wisatawan.

Hidangan tersebut adalah Mandai.

Mandai bukanlah sekadar lauk pauk biasa.

Kuliner ini merupakan bukti kreativitas masyarakat Banjar dalam mengolah bahan pangan.

Jika biasanya kulit buah dibuang, di tangan warga Kalimantan Selatan, kulit buah cempedak disulap menjadi hidangan lezat dengan cita rasa yang menggugah selera.

Mandai adalah sebutan untuk kulit buah cempedak (Artocarpus integer) yang telah melalui proses fermentasi.

Bagian yang diambil bukanlah kulit luar yang berduri, melainkan bagian dalam kulit yang tebal dan berwarna putih kekuningan.

Proses pembuatannya diawali dengan mengupas kulit terluar cempedak hingga bersih, lalu kulit bagian dalam tersebut direndam dalam air garam.

Proses fermentasi ini bisa berlangsung selama beberapa hari, bahkan hingga berbulan-bulan.

Semakin lama direndam, tekstur Mandai akan semakin lembut dan rasa asamnya akan semakin kuat, menciptakan karakteristik rasa yang unik.

Banyak wisatawan yang menjuluki Mandai sebagai “Daging Nabati” dari Kalimantan.

Hal ini dikarenakan tekstur Mandai setelah dimasak sangat mirip dengan serat daging, empuk namun tetap memiliki sedikit sensasi kenyal.

Bagi para pelancong, menikmati Mandai memberikan pengalaman rasa yang baru.

Biasanya, Mandai disajikan dengan cara digoreng kering atau ditumis dengan bumbu pedas, bawang merah, dan bawang putih.

Aroma khas dari fermentasi cempedak yang dipadukan dengan nasi hangat dan sambal acan (terasi khas Banjar) menciptakan harmoni rasa gurih, asam, dan pedas yang sulit dilupakan.

Di Kalimantan Selatan, Mandai sering kali dianggap sebagai “penambah nafsu makan”.

Selain digoreng biasa, Mandai juga sering dimasak menjadi oseng-oseng dengan campuran petai atau ikan asin, yang semakin memperkaya tekstur dan aromanya.

Mandai tidak hanya menawarkan kelezatan, tetapi juga cerita tentang kearifan lokal dalam memanfaatkan hasil alam secara maksimal.(iz)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *