Paparan Arus Informasi Bisa Picu Kelelahan Mental

Jakarta, DUTA TVPsikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog mengemukakan paparan arus informasi seperti terkait bencana bisa memicu kelelahan mental.

Menurut dia, kelelahan mental juga bisa menghinggapi orang-orang yang jauh dari lokasi bencana karena terpapar informasi setiap hari, atau yang dikenal sebagai vicarious trauma atau secondary trauma.

⁠”Fenomena ini banyak dikenal sebagai vicarious trauma atau secondary trauma, hal ini menggambarkan kondisi psikologis yang dialami seorang individu setelah secara tidak langsung terpapar pengalaman traumatis orang lain,” kata Virginia, Senin.

Berita Lainnya

Menurut psikolog lulusan Universitas Padjajaran itu berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa paparan berulang terutama setiap hari terhadap berita bencana seperti gambar, video atau narasi emosional, dapat memicu respon stres yang serupa dengan mereka yang mengalami peristiwa tersebut secara langsung.

Sejumlah langkah yang bisa dilakukan dalam mewaspadai kelelahan mental di tengah paparan arus informasi seperti membatasi durasi membaca atau menonton berita, misalnya dengan hanya 1-2 kali sehari dan melihatnya dari sumber terpercaya.

“Menyadari boundaries pribadi, dan menyadari juga bahwa empati tidak berarti harus menyerap semua perasaan yang dirasakan oleh para korban,” tutur psikolog yang berpraktik di Personal Growth itu.

Hanny juga menyarankan untuk melakukan teknik grounding seperti pernapasan dalam atau fokus pada sensasi tubuh hingga perlu menyeimbangkan dengan aksi nyata seperti donasi atau menjadi relawan apabila kondisi diri sendiri memungkinkan.

Munculnya reaksi emosional seperti rasa sedih, cemas, atau merasa lelah secara mental merupakan hal yang wajar di tengah situasi krisis berkepanjangan.

Kondisi tersebut bahkan bisa dialami mereka yang tidak terdampak langsung oleh peristiwanya.

Namun, terdapat sejumlah tanda tertentu yang perlu menjadi perhatian.

“Ketika emosi negatif intens dan menetap lebih dari 2 minggu tanpa perbaikan hingga kesulitan tidur atau mimpi buruk terus-menerus,” ujar dia.

Tanda lainnya yang perlu diwaspadai seperti merasakan perasaan putus asa, mati rasa emosional, atau rasa bersalah berlebihan, sulit berfungsi dalam aktivitas harian (kerja, sekolah, relasi), menghindari berita secara ekstrem atau sebaliknya, kompulsif mengecek berita hingga muncul pikiran menyakiti diri atau keinginan ‘menghilang’.(ant)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *