Banjir Masih Rendam Desa Pembantanan, Akses Jalan Lumpuh Total & Masjid Tak Bisa Digunakan

Sungai Tabuk, DUTA TV — Banjir yang melanda Desa Pembantanan, Kecamatan Sungai Tabuk, hingga kini belum juga surut. Kondisi ini menyebabkan aktivitas warga lumpuh total, mulai dari akses transportasi, kegiatan ibadah, hingga pekerjaan sehari-hari.
Akses menuju desa ini pun saat ini hanya bisa ditempuh menggunakan perahu, sementara kendaraan roda dua milik warga terpaksa diparkir di pinggir jalan raya. Genangan air dengan ketinggian cukup tinggi membuat sejumlah fasilitas umum tidak dapat digunakan, termasuk masjid.
Akibatnya, warga kesulitan melaksanakan ibadah Jumat. Sudah hampir satu bulan terakhir masyarakat tidak bisa melaksanakan salat Jumat di desa mereka sendiri.
Salah satu warga Desa Pembantanan, Mulyadi, mengatakan banjir yang berkepanjangan membuat warga harus mencari masjid di luar desa untuk melaksanakan ibadah. Namun, untuk menuju ke lokasi tersebut, warga harus menempuh perjalanan yang cukup sulit. Mulyadi menambahkan dampak banjir tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak sekolah. Sejak awal semester dua, kegiatan belajar mengajar terpaksa diliburkan karena akses jalan yang tidak memungkinkan.
“Sudah hampir sebulan untuk Jumatan, sudah tiga Jumat tidak bisa Jumatan. Untuk Jumatan tidak bisa melaksanakan, jadi ke arah ada masjid di Sungai Tabuk, jadi masyarakat ke sana ada pakai sepeda motor yang ditinggal di jalan tol. Sekolah libur juga dari awal semester dua kemarin,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua RT 3 Desa Pembantanan, Arpani, mengatakan kondisi banjir di wilayahnya masih sangat memprihatinkan. Akses jalan sudah mati total sehingga warga tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Ia menyebut sebagian besar warganya menggantungkan hidup sebagai petani, buruh bangunan, dan pencari ikan. Namun akibat banjir yang berlangsung lebih dari satu bulan, seluruh aktivitas ekonomi warga terhenti.
“Saat ini kondisinya masih terendam soalnya akses jalan kita sudah mati total. Untuk pekerjaan sudah kada kawa lagi. Ketinggian dalam rumah sudah dari 40 sampai 70 sentimeter. Gawian rata-rata petani, begawi bangunan, dan iwak, cuman gara-gara banjir ini lumpuh total sekitar satu bulan lebih. Di RT keseluruhan sudah merata, kalau RT kita RT 3 ada 68 KK yang bertahan di rumah soalnya semua keluarga sama merata di rumah masing-masing, cuman kita bikin apar-apar untuk bertahan hidup,” ujar Arpani.
Hingga kini, warga berharap adanya perhatian dan penanganan serius dari pihak terkait agar banjir segera surut dan aktivitas masyarakat Desa Pembantanan dapat kembali normal. Sedikitnya ada ratusan kepala keluarga dari 11 RT di Desa Pembantanan yang saat ini masih terdampak banjir.
Reporter: Evi Dwi Herliyanti





