Didampingi Dosen & Mahasiswa Universitas Sari Mulia, Kader Posyandu Desa Sungai Tandipah Bergerak Lawan Stunting

Banjar, Duta TV – Suasana Posyandu Mawar di Desa Sungai Tandipah, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, kini terasa berbeda. Tidak hanya sekadar tempat penimbangan balita, posyandu berubah menjadi pusat aktivitas belajar, diskusi, dan bahkan usaha kecil.
Para kader yang biasanya hanya mencatat berat badan dan memberi vitamin, kini tampil percaya diri menyampaikan penyuluhan, mengolah makanan sehat, hingga mengelola warung gizi mini. Perubahan ini tidak datang begitu saja.
Semua berawal dari sebuah program pengabdian masyarakat yang digagas Universitas Sari Mulia dengan tim pengabdi dua orang dosen dari Program Studi Sarjana Terapan Promosi Kesehatan yakni M. Fajriannor TM, SKM, M.Kes dan Agnes Fridolin, S.Kep., M.Kes dan satu orang dosen dari Program Studi Sarjana Akuntansi yakni Nadya Novianty, SE., M.SA.,Ak. CA. dan 3 orang mahasiswa yakni Gusti Harifa Septia, Shinta Nauli Aritonang dan Norul Hikmah. Pengabdian ini mengangkat judul:
“Pemberdayaan Kader Posyandu Sebagai Upaya Pengendalian Stunting Berbasis Komunikasi Interpersonal dan Penguatan Ekonomi di Desa Sungai Tandipah.”Program ini didukung penuh olehDirektorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI Tahun Anggaran 2025.
Ancaman Stunting di Bantaran Sungai
Desa Sungai Tandipah bukan desa biasa. Terletak di bantaran Sungai Martapura, desa ini dihuni 2.685 jiwa dengan mayoritas mata pencaharian sebagai petani dan pekebun. Banjir musiman, minimnya sanitasi, serta ketergantungan pada air sungai membuat kehidupan warganya rentan terhadap masalah kesehatan.
Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Banjar Nomor 188.45/159/KUM/2024, Desa Sungai Tandipah ditetapkan sebagai Lokasi Fokus (Lokus) Intervensi Percepatan Penurunan Stunting di tahun 2025. Data menunjukkan kasus stunting di desa meningkat dari 11,9% pada 2022 menjadi 18,42% pada 2024. Angka ini mengkhawatirkan, karena stunting bukan hanya soal tubuh anak yang pendek, tetapi juga berdampak pada perkembangan otak dan produktivitas di masa depan.
Kader Posyandu Naik Kelas
Melalui program pengabdian, para kader posyandu dilatih untuk menguasai komunikasi interpersonal. Mereka belajar cara berbicara dengan bahasa sederhana, menggunakan media visual seperti poster, hingga melakukan simulasi penyajian makanan sehat.” Kalau dulu kami hanya bicara sebentar, sekarang lebih percaya diri menjelaskan sambil praktik. Ibu-ibu juga senang karena bisa langsung mencoba,” tutur seorang kader dengan wajah penuh semangat.
Perubahan ini terlihat nyata dalam kegiatan posyandu bulanan. Penyuluhan tidak lagi sekadar “dengar ceramah”, tetapi berubah menjadi interaksi aktif antara kader dan masyarakat.
Inovasi Warung Gizi Mini
Tak hanya peningkatan keterampilan komunikasi, aspek ekonomi kader juga mendapat perhatian. Melalui program ini, tim pengabdian memperkenalkan warung gizi mini yang dikelola langsung oleh kader posyandu. Keberadaan warung gizi mini bukan sekadar usaha kecil, melainkan juga sarana edukasi gizi.
Untuk memperkuat usaha ini, kader juga mendapat pelatihan pencatatan dan pengelolaan keuangan sederhana. Mereka dilatih mencatat pemasukan dan pengeluaran, menghitung keuntungan, hingga menyusun laporan sederhana.
Teknologi Tepat Guna: Filter Air Sederhana
Kesehatan masyarakat juga sangat dipengaruhi oleh kondisi air. Selama ini, warga masih mengandalkan air sungai tanpa pengolahan. Untuk itu, program memperkenalkan filter air sederhana berbahan pasir, kerikil, arang, dan galon bekas.
Meski baru dua unit yang berhasil dibuat, hasilnya cukup efektif untuk menyaring kotoran kasar dan mengurangi bau air sungai. Inovasi sederhana ini diharapkan bisa diperbanyak agar manfaatnya dirasakan lebih luas.
Dukungan PKK dan Perubahan yang Terlihat
Dampak awal dari program sudah terasa. Kader posyandu tampil lebih percaya diri, ibu balita antusias mencoba resep sehat, dan warung gizi mini mulai menarik minat warga. Poster edukasi yang dipasang di posyandu membuat pesan kesehatan lebih mudah dipahami, bahkan oleh masyarakat dengan latar pendidikan rendah.
Dari sisi ekonomi, meski omzet warung masih kecil, langkah ini menjadi awal dari kemandirian kader. Beberapa kader kini sudah bisa mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan rapi, sesuatu yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan.
Ketua PKK Desa Sungai Tandipah, mengapresiasi program ini. “Kegiatan ini sangat bermanfaat, terutama bagi ibu-ibu di desa kami. Dengan adanya pelatihan dan warung gizi mini, kader posyandu lebih semangat dan masyarakat juga lebih sadar pentingnya makanan sehat. Kami di PKK siap mendukung agar kegiatan ini berlanjut dan berkembang,” ujarnya.
Bagian dari Agenda Nasional dan Global
Upaya di Desa Sungai Tandipah sejalan dengan agenda besar pemerintah untuk mempercepat penurunan stunting. Program ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya terkait kesehatan, air bersih, dan konsumsi berkelanjutan.
Bagi perguruan tinggi, program ini memperkuat peran akademisi dalam menyelesaikan masalah nyata di masyarakat. Mahasiswa yang terlibat mendapat pengalaman langsung di lapangan, sementara hasil inovasi dosen dimanfaatkan masyarakat.
Jalan Panjang yang Masih Harus Dilalui
Meski hasil awal cukup menjanjikan, perjalanan melawan stunting masih panjang. Warung gizi mini perlu diperkuat dengan modal dan strategi pemasaran. Filter air sederhana harus diperbanyak agar benar-benar digunakan luas. Media edukasi perlu ditingkatkan, bahkan dikembangkan ke bentuk digital agar lebih menarik generasi muda desa.
Namun fondasi sudah diletakkan. Kader posyandu yang dulu hanya bertugas menimbang balita, kini bertransformasi menjadi agen perubahan sosial dan ekonomi.
Program ini membuktikan bahwa melawan stunting tidak cukup hanya dengan obat dan vitamin. Perlu pendekatan menyeluruh: pendidikan, komunikasi, ekonomi, dan solidaritas masyarakat. Desa Sungai Tandipah memberi pelajaran penting: dengan dukungan tepat, desa bisa bergerak dan bangkit melawan stunting dari dalam dirinya sendiri.
Tim liputan





