Sembahyang Cioko, Tradisi Tionghoa Doakan Arwah Leluhur

BANJARMASIN, DUTA TV – Puluhan umat Tridharma tampak memadati Kelenteng Soetji Nurani, di Jalan Veteran Kelurahan Kampung Gedang, Banjarmasin Tengah, akhir pekan tadi.

Mereka mengikuti prosesi Sembahyang Cioko yang rutin digelar setiap tanggal 15 bulan tujuh penanggalan Imlek.

Berbagai sesajen disiapkan, mulai dari buah-buahan, makanan tradisional, hingga replika pakaian dan uang kertas yang nantinya dibakar sebagai simbol persembahan untuk arwah.

Menurut kepercayaan Tionghoa, pada bulan ini pintu arwah terbuka. Karena itu, umat tidak hanya berdoa untuk leluhur, tetapi juga memberikan persembahan kepada roh-roh yang terlantar.

Selain bermakna spiritual, Sembahyang Cioko juga menjadi ajang berbagi rezeki sekaligus mempererat kerukunan antarumat beragama di Banjarmasin.

“Jadi kami menyembahyangi leluhur kami sekaligus mendoakan arwah-arwah yang menderita. Makanya kita berikan pelimpahan jasa ini. Prosesi kita berupa persembahan replika koper, baju, dan uang. Dengan visualisasi itu, diyakini bisa sampai untuk mereka di alam sana,” ujar Djohan Jawono, Wakil Ketua Kelenteng Soetji Nurani.

Tradisi Sembahyang Cioko sendiri sekaligus menjadi bukti kekayaan budaya serta semangat toleransi di Kota Banjarmasin yang terus terjaga hingga kini.

Reporter: Nina Megasari

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *