Antrian Haji Reguler Capai 40 Tahun, Peminat Haji Mujamalah Tinggi

BANJARMASIN, DUTA TV — Panjangnya antrian haji di Kalimantan Selatan yang mencapai 40 tahun membuat travel haji dan umrah di Banjarmasin berlomba menawarkan haji mujamalah kepada masyarakat.
Haji mujamalah merupakan salah satu solusi tepat dan cepat untuk berangkat haji. Hal itu diungkapkan H. Saridi Salimin, Owner Al Insani Travel saat tabligh akbar bersama Ustad Maulana. Ia mengatakan, saat ini sudah banyak masyarakat yang mendaftarkan diri untuk berangkat haji mujamalah di tahun depan.
Kendati biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit, namun tak menyurutkan niat masyarakat Kalsel untuk berangkat haji lebih cepat. Haji mujamalah merupakan pengganti dari haji furoda dengan visa yang dikeluarkan langsung oleh Kerajaan Arab Saudi atas undangan.
“Perlu kita ketahui bahwa antrian haji di Indonesia, khususnya Kalsel, mencapai 40 tahun antriannya. Oleh karena itu kita punya solusi, menggunakan haji khusus dengan masa tunggu 5–8 tahun. Kita juga ada visa mujamalah, di mana visa mujamalah ini adalah visa yang dikeluarkan syarikah,” jelas Saridi.
“Yang mengelola visa mujamalah nanti dari syarikah ini yang memberikan kepada calon-calon jemaah haji, salah satunya lewat travel kami. Insyaallah sangat luar biasa karena memang masyarakat Kalsel terkenal religius,” tambahnya.
Sementara itu, dalam tabligh akbar sekaligus peringatan Maulid Nabi, Ustad Maulana mengajak seluruh undangan yang hadir untuk meniatkan diri berhaji, karena menjadi rukun Islam kelima. Ustad Maulana menyebut berangkat haji ataupun umrah adalah ibadah yang mudah, namun harus didasari niat yang sungguh-sungguh.
“Tau gak, ibadah haji umrah itu bukan ibadah yang susah. Gampang itu, karena ibadahnya bukan bacaan, tidak ada yang harus dihapal,” ujarnya.
Tabligh akbar bersama Ustad Maulana yang digelar Al Insani Travel ini tak hanya menyisipkan sosialisasi solusi tepat dan cepat naik haji, namun juga menyampaikan pesan-pesan moral meneladani sifat-sifat Nabi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam beragama, sosial, maupun bermasyarakat.
Reporter: Evi Dwi Herliyanti





