Karateka Banjarbaru Semangat Harumkan Banua Meski Minim Apresiasi

Banjarbaru, DUTA TV –Nasib kurang beruntung dialami oleh para atlet Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI) Banjarbaru yang mengikuti Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII tahun 2025 di Mataram, Nusa Tenggara Barat, akhir Juli lalu.
Meski berhasil mengharumkan nama Banua dengan menyumbangkan total 14 medali—terdiri dari delapan emas, tiga perak, dan tiga perunggu—dukungan serta perhatian dari pihak pemerintah daerah justru minim dirasakan.
Di balik kegembiraan saat meraih medali di atas podium, para atlet harus menghadapi kenyataan pahit di luar arena.
Ketiadaan dukungan anggaran membuat mereka kesulitan untuk kembali ke kampung halaman.
Bahkan, demi membeli tiket pesawat pulang ke Banjarbaru, mereka terpaksa meminjam dana dari seorang kenalan di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Lebih memilukan lagi, salah satu atlet andalan, Tzania Rizqa Weninda, 22 tahun, mengalami cedera serius berupa Anterior Cruciate Ligament (ACL) di bagian lutut yang memerlukan tindakan operasi.
Hingga kini, sebagian besar biaya pengobatan masih ditanggung pribadi.
“Cedera ACL, di bagian otot lutut. Pakai BPJS, tapi selebihnya pakai biaya pribadi. Belum ada bantuan dari Pemko Banjarbaru,” kata Tzania.
Pembina FKTI Banjarbaru, Nur Wakib, menyayangkan minimnya apresiasi dari pemerintah daerah terhadap perjuangan para atlet yang telah membawa nama daerah di ajang nasional.
“Mereka tampil bukan atas nama pribadi, tapi mengibarkan nama Banjarbaru dan Kalimantan Selatan. Sampai sekarang belum ada bentuk penghargaan yang diberikan,” ujar Nur Wakib.
Ia juga mengungkapkan bahwa dari sembilan atlet FKTI yang diberangkatkan ke ajang FORNAS tahun ini, hanya satu atlet yang biayanya ditanggung oleh Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) Kalimantan Selatan.
Sisanya harus menanggung sendiri seluruh kebutuhan keberangkatan dan akomodasi.
Reporter : Suhardadi





