Wahana Horor, Bikin Nagih Meski Jantung Dar Der Dor

Jakarta, DUTA TV — Sensasi apa lagi yang diharapkan dari kunjungan ke wahana horor selain rasa takut ? Meski begitu, ada saja yang menemukan keseruan sampai-sampai ketagihan datang ke wahana horor.

Rasa penasaran Nawal akan wahana ‘Dendam Hotel Palmerah’ terbayar sudah. Setelah beberapa kali terpapar konten tentang wahana ini di TikTok, ia menunaikan kunjungan ke Palmerah bersama tiga orang teman.

“Seru sih, menarik, beda dari yang lain rumah hantu ini tuh. (Saya) Sering ke rumah hantu, biasanya di mal-mal, nah kalau di hotel baru ini,” kata Nawal saat ditemui usai menjajal wahana ‘Dendam Hotel Palmerah’ di Twin Plaza Hotel, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.

Wahana ini memanfaatkan Twin Plaza Hotel yang ‘hiatus’ akibat pandemi. Perjalanan dimulai dengan penjelasan dari staf tentang beberapa misi yang musti diselesaikan selama di dalam.

Wahana horor (Foto : CNN Indonesia)

Meski sadar sosok-sosok di dalam wahana sama-sama manusia dengan riasan hantu, teriakan tidak dapat dielakkan. Tak jarang ada yang saling dorong, terinjak, berpelukan saking ketakutan dikejar setan.

Misi-misi yang harus dijalani kadang memaksa pengunjung untuk ‘berinteraksi’ dengan sosok hantu. Pencahayaan super minim, diiringi celoteh para pocong, salah satu orang dalam rombongan harus melepas tali pocong demi bisa melanjutkan perjalanan.

Selama menjalankan misi, pengunjung tidak boleh mengambil gambar dan video. Namun tak perlu khawatir sebab setelah misi usai, pengunjung akan dibawa ke lantai 21 untuk ‘meet and greet’ dengan sosok Ibu dari film ‘Pengabdi Setan’, sosok Nyi Blorong dan Nyi Roro Kidul. Tapi, cuma segelintir yang berani berfoto bersama.

Rasa takut yang demikian hebat rupanya tidak membuat Nawal kapok. Justru ia ketagihan.

“Saya orangnya demen ke tempat horor. Nagih kalau ke tempat kayak gini, buat have fun, teriak-teriak,” ujarnya.

Gibran Fawwaztara, creative leader wahana ‘Dendam Hotel Palmerah’, mengatakan, dia banyak terinspirasi dari film. Selain itu, Gibran juga mengangkat hal-hal yang umum diketahui orang.

Hantu-hantu seperti vampir atau Sadako mungkin hanya diketahui kalangan tertentu. Tapi saat bicara soal kuntilanak dan pocong, rasanya orang lebih ‘relate’ dengan entitas hantu lokal ini.

“Kalau gimnya terlalu spesifik, segmented, (orang susah menangkap apa permainannya). Buka tali pocong kan semua orang tahu ya,” jelas dia dalam wawancara terpisah.

Di sisi lain, baik penyelenggara maupun pengunjung pun harus berurusan dengan sosok-sosok hantu sesungguhnya.

Dia menambahkan tak jarang urusan dengan ‘penghuni asli’ sudah dimulai sejak persiapan wahana. Rumah produksi kerap membangun wahana di mal. Yang cukup menantang adalah membangun wahana di mal yang sepi.

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *