5.000 Hektare Lahan Pertanian Gagal Panen, Terparah di HST

Banjarmasin, Duta TV — Sebanyak 11 ribu hektare lahan pertanian di Kalimantan Selatan terdampak banjir, dan lima ribu hektare di antaranya dipastikan puso atau gagal panen total.
Kondisi itu dilaporkan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan saat rapat evaluasi pascabanjir bersama Komisi II DPRD Kalsel.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Ir. H. Syamsir Rahman menjelaskan, saat ini pihaknya bersama Komisi II DPRD Kalsel dan Bappeda masih mengoordinasikan solusi bagi petani terdampak.
Bantuan yang dipertimbangkan antara lain bantuan benih padi maupun bibit tanaman hortikultura. Kendati begitu, kondisi ketahanan pangan di Kalimantan Selatan dipastikan masih dalam keadaan aman, menyusul produksi pertanian daerah saat ini masih surplus sekitar 15 persen. Stok beras dan sembako di Kalimantan Selatan disebut masih sangat mencukupi.
Bahkan, jika tidak ada gangguan besar, stok pangan diperkirakan bisa bertahan hingga dua tahun ke depan.
Apalagi ketahanan pangan Kalsel tidak hanya bergantung pada padi, tetapi juga komoditas lain seperti jagung dan tanaman pertanian lainnya.
Syamsir Rahman memaparkan luas lahan pertanian yang terdampak dan kondisi puso.
“Sekitar lima ribu hektare yang terdampak dari total 11 ribu. Jadi yang puso itu artinya tidak bisa diselamatkan lagi. Lebih dari waktu seminggu itu akan puso. Ketika petani mengalami puso berarti kita harus membantu mereka,” jelasnya.
Ia menjelaskan upaya koordinasi lintas instansi untuk mencari solusi bantuan bagi petani terdampak.
Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Selatan, Yani Helmi, menyampaikan kondisi ketersediaan pangan daerah yang dinilai masih aman.
“Kita surplus 15 persen untuk hasil pertanian kita. Ini bisa mencukupi, bahkan lebih aman untuk Kalsel,” tegasnya.
Ia menambahkan, Kalimantan Selatan tidak memerlukan impor pangan dan berharap kondisi ini berlanjut hingga masa tanam berikutnya
“Kita tidak akan impor seperti yang hari ini ada rakor antara Presiden, gubernur, kepala daerah, dan stakeholder lain. Itu kita bisa mengatakan ini aman untuk bahan pangan. Mudah-mudahan seterusnya sampai nanti waktu tanam tiba,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Komisi II DPRD Kalsel, H. Jahrian, menegaskan ketersediaan stok pangan di daerah masih sangat aman.
“Kita ini stok beras dan sembako di Kalsel masih bisa bertahan dua tahun pun masih bisa bertahan. Jadi jangan takut seperti daerah lain. Kita masih ada daerah yang tinggi. Kalau terpaksa kita menanam padi apung di atas bambu,” ujarnya.
Berdasarkan data, lahan pertanian yang mengalami puso terparah terjadi di Hulu Sungai Tengah, disusul Kabupaten Banjar dan sebagian Tanah Laut.
Melalui rapat evaluasi ini, Komisi II menekankan koordinasi lintas instansi agar dapat menghasilkan langkah konkret untuk membantu petani terdampak banjir sekaligus memastikan ketahanan pangan Kalimantan Selatan tetap terjaga.
Reporter: Evi Dwi Herliyanti





